Showing posts with label BAB 3. Show all posts
Showing posts with label BAB 3. Show all posts

Thursday, May 16, 2019

TUGAS TENTANG KEJUJURAN

Soal Essay 1-10
1. Apa yang dimaksud Jujur?
Jawaban: Pengertian Jujur adalah suatu prilaku yang mencerminkan adanya kesesuaian antara hati, perkataan dan perbuatan. Apa yang diniatkan oleh hati, diucapkan oleh lisan atau mulut kita dan di gambarkan dalam perbuatan memang itulah yang sesungguhnya terjadi dan sebenarnya.
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan disiplin?
Jawaban: Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya merupakan tanggung jawabnya. Pendisiplinan adalah usaha usaha untuk menanamkan nilai ataupun pemaksaan agar subjek memiliki kemampuan untuk menaati sebuah peraturan.
3. Apa yang dimaksud dengan adil?
Jawaban: Pengertian adil adalah dimana semua orang mendapat hak menurut kewajibannya. Sebagian besar orang mendefenisikan kata ADIL adalah suatu sikap yang tidak memihak atau sama rata, tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang, tidak ada pilih kasih dan masih banyak lagi persepsi yang lainnya.
4. Apa yang dimaksud dengan bijaksana?
Jawaban:  bijaksana adalah bertindak sesuai dengan pikiran, akal sehat sehingga menghasilkan perilaku yang tepat, sesuai dan pas.
5. Apa yang dimaksud dengan damai?
Jawaban: Damai adalah sebuah harmoni dalam kehidupan alami antar manusia di mana tidak ada perseturuan ataupun konflik. Bisa diartikan juga tidak adanya kekerasan dan sistem keadilan berlaku baik dalam kehidupan pribadi, antar personal, maupun dalam sistem keadilan sosial politik lokal, menyeluruh, dan secara global.

LATIHAN SOAL TENTANG MEMPERTAHANKAN KEJUJURAN SEBAGAI CERMIN KEHIDUPAN

Pilihan Ganda1-15
1. Memberikan Informasi sesuai dengan kenyataannya disebut…
A. Tawaduk
B. Zuhud
C. Istikamah
D. Jujur
E. Kanaah
Jawab: D
2. Berikut yang tidak termasuk pengertian jujur adalah…
A. Kesesuaian antara ucapan dan perbuatan
B. Sesuatu yang tidak mengandung kedustaan
C. Kesesuaian informasi dan kenyataan
D. Kesesuaian kehendak dan hati
E. Ketegasan dan kemantapan
Jawab: E
3. Orang yang tidak Jujur disebut munafik, salah satunya ciri orang munafik adalah…
A. Jika berjanji tidak ditepati
B. Jika berbicara selalu jujur
C. Jika dipercaya amanah
D. Jika berkata ingin didengar
E. Jika bertindak selalu salah
Jawab: A
4. Allah SWT berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّا مِيْنَ
Ayat diatas berisi tentang…
A. Perintah bersikap jujur
B. Tanda-tanda orang munafik
C. Akibat jujur
D. Dampak bohong
E. Orang yang dusta akan masuk neraka
Jawab: A
5. Sesungguhnya jujur itu akan membawa…
A. Kejahatan
B. Kebaikan
C. Persaudaraan
D. Kemakmuran
E. Ketenteraman
Jawab: B
6. Rahman rajin beribadah kemasjid. Ibadah ramhan semata-mata karena Allah Swt. Sikap Rahman adalah cerminan dari…
A. Jujur dalam niat
B. Jujur dalam perkataan
C. Jujur dalam perbuatan
D. Jujur dalam sikap
E. Jujur dalam perbuatan
Jawab: A
7. Berikut contoh perilaku jujur dalam perbuatan adalah…
A. Dio mengatakan bahwa yang bersalah sebenarnya adalah Andi
B. Saat mengerjakan ulangan Beni tidak menyontek
C. Udin rajin puasa Senin kamis karena Allah Swt.
D. Pak Zanuri menjalankan ibadah haji
E. Nurul tidak pernah berbohong ketika berkata
Jawab: B
8. Allah SWT berfirman:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰۤى اَ لَّا تَعْدِلُوْا ۗ
Arti Q.S Al-Maidah, 5: 8 yang ditulis tebal adalah…
A. Menjadi saksi yang adil
B. Terhadap suatu kaum
C. Dan janganlah kebencianmu
D. Dan bertakwalah kepada Allah Swt
E. Dan janganlah kesenanganmu
Jawab: A
9. Nabi Muhammad Saw. Menjelaskan bahwa jujur itu membawa kebaikan dan kebaikan itu menuntun ke surga. Ungkapan tersebut mengandung arti…
A. Jujur menyebabkan orang bahagia
B. Jujur membuat pelakunya selalu gelisah
C. Jujur membawa keberkahan dalam hidup
D. Jujur menyebabkan kenyamanan dalam berperilaku
E. Jujur sangat penting dalam kehidupan sehari-hari
Jawab: A
10. Salah satu ciri orang yang berperilaku jujur yaitu…
A. Suka dipuji orang lain
B. Berbuat semaunya sendiri
C. Mematuhi perintah orang tua
D. Berani mengakui kesalahan
E. Berani berbuat
Jawab: D
11. Contoh perilaku jujur di lingkungan sekolah adalah…
A. Tidak menyontek saat ulangan
B. Meminta izin kepada ibu guru saat istirahat
C. Tidak menyembunyikan identitas diri
D. Memanfaatkan uang saku sebaik-baiknya
E. Memberitahukan nilai kepada orang tua dengan sebenarnya
Jawab: A
12. Berdasarkan Q.S Az-Zumar, 39: 33, yang dimaksud mereka itulah yang bertakwa adalah…
A. Orang-orang yang memegang teguh kebenaran dan menjatuhkan diri dari kebatilan
B. Orang yang selalu jujur dalam ucapanya dan mendengarkanya
C. Orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya
D. Orang yang tunduk kepada perintah Allah Swt. Dan menjauhi larangan-Nya
E. Orang yang taat aturan dan mengeluarkan aturan
Jawab: B
13. Berikut manfaat perilaku Jujur, Kecuali…
A. Mendapat kepercayaan dari orang lain
B. Mendapat banyak teman
C. Mendapat ketenteraman hidup
D. Dicintai Allah Swt.
E. Dibenci banyak orang
Jawab: E
14. Keimanan seseorang dan kejujuran mempunyai hubungan yang erat. Semakin kuat keimanan seseorang akan semakin…
A. Berperilaku jujur
B. Menghindari dusta
C. Menambah iman
D. Menambah takwa
E. Menambah amal ibadah
Jawab: C
15. Hikmah berperilaku jujur bagi diri sendiri adalah…
A. Mempercepat kemajuan suatu bangsa
B. Terlindung hak-haknya
C. Menumbuhkan perasaan aman dan tentram
D. Terwujudnya keadilan yang sebenarnya
E. Semakin dipercaya orang lain
Jawab: E
Soal Essay 1-5
1. Jelaskan maksud jujur dalam niat dan kehendak?
Jawaban:
Pembahasaan : Jujur dalam niat dan kehendak merupakan antara sikap dan keinginan hati memiliki kesamaan / selaras, sehingga bisa dikatakan bahwa jujur dalam niat dan kehendak merupakan sikap ikhlas dan murni hanya mengharap ridha dari Allah SWT dan bukan bertindak berdasarkan keinginan hawa nafsunya terpenuhi seperti sifat riya’. Jujur dalam niat dan kehendak bisa dikatakan juga bahwa orang itu tidak munafik.
2. Sebutkan Ciri-ciri orang berperilaku jujur?
Jawaban:
– tidak pernah berdusta / berbohong
– tegas dalam bersikap / tidak menunjukan kepura-puraan
– berkata apa adanya
– dapat mengemban kepercayaan dr orang lain
– tidak pernah membohongi diri sendiri
3. Tuliskan Hadis Yang memerintah untuk berperilaku Jujur?
Jawaban:
Allah SWT berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّا مِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَآءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰۤى اَ لَّا تَعْدِلُوْا ۗ اِعْدِلُوْا ۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 8).
4. Tuliskan kandungan Q.S AT-Taubah, 9:119!
Jawaban :
Isi kandungan surat at-taubah ayat 119 :
1) ada 3 kelompok manusia dalam ayat ini yaitu : org beriman , org taqwa dan org yg benar
2) tdk setian org beriman itu taqwa
3) dalam ayat ini jika kita sdh menyatakan diri kita beriman , kita dianjurkan unt meningkatkan keimanan kita menjadi org yg taqwa
4) cara agar menjadi org yg taqwa , kita harus menjadi orang yg benar (shodiqqin).
Jawaban:
1. Tidak mencuri barang orang lain
2. Berkata jujur
3. Tidak mencontek pd waktu ulangan
4. Mengerjakan PR di rumah
5. Tidak mengambil barang yang telah ditemukan (barang temuan)
6. Berpamitan pada orangtua sesuai tempat tujuan pergi
7. Berkata apa adanya
8. Tidak melihat chat di hp saudara, teman, ataupun orangtua
9. Mengembalikan uang lebihan jika penjual salah menghitung uang kembalian
10. Mengembalikan uang belanjaan ibu (jika lebih).

Friday, May 10, 2019

MEMPERTAHANKAN KEJUJURAN SEBAGAI CERMIN KEPRIBADIAN

Mempertahankan Kejujuran sebagai Cermin Kepribadian 

Image result for JUJUR

A. Memahami Makna Kejujuran 
1. Pengertian Jujur 
Dalam bahasa Arab, kata jujur semakna dengan “aś-śidqu” atau “śiddiq” yang berarti benar, nyata, atau berkata benar. Lawan kata ini adalah dusta, atau dalam bahasa Arab ”al-ka©ibu”. Secara istilah, jujur atau aś-śidqu bermakna (1) kesesuaian antara ucapan dan perbuatan; (2) kesesuaian antara informasi dan kenyataan; (3) ketegasan dan kemantapan hati; dan (4) sesuatu yang baik yang tidak dicampuri kedustaan.

2. Pembagian Sifat Jujur Imam al-Gazali membagi sifat jujur atau benar (śiddiq) sebagai berikut. 
a. Jujur dalam niat atau berkehendak, yaitu tiada dorongan bagi seseorang dalam segala tindakan dan gerakannya selain dorongan karena Allah Swt. 

b. Jujur dalam perkataan (lisan), yaitu sesuainya berita yang diterima dengan yang disampaikan. Setiap orang harus dapat memelihara perkataannya. Ia tidak berkata kecuali dengan jujur. Barangsiapa yang menjaga lidahnya dengan cara selalu menyampaikan berita yang sesuai dengan fakta yang sebenarnya, ia termasuk jujur jenis ini. Menepati janji termasuk jujur jenis ini. 

c. Jujur dalam perbuatan/amaliah, yaitu beramal dengan sungguhsungguh sehingga perbuatan żahirnya tidak menunjukkan sesuatu yang ada dalam batinnya dan menjadi tabiat bagi dirinya. 

Kejujuran merupakan fondasi atas tegaknya suatu nilai-nilai kebenaran, karena jujur identik dengan kebenaran. Allah Swt. berfirman: Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah Swt. dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (Q.S. al-Ahzāb/33:70) Orang yang beriman perkataannya harus sesuai dengan perbuatannya karena sangat berdosa besar bagi orang-orang yang tidak mampu menyesuaikan perkataannya dengan perbuatan, atau berbeda apa yang di lidah dan apa yang diperbuat. Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apaapa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. aś-Śaff/61:2-3) Pesan moral ayat tersebut tidak lain memerintahkan satunya perkataan dengan perbuatan. Dosa besar di sisi Allah Swt., mengucapkan sesuatu yang tidak disertai dengan perbuatannya. Perilaku jujur dapat menghantarkan pelakunya menuju kesuksesan dunia dan akhirat. Bahkan, sifat jujur adalah sifat yang wajib dimiliki oleh setiap nabi dan rasul. Artinya, orangorang yang selalu istiqamah atau konsisten mempertahankan kejujuran, sesungguhnya ia telah memiliki separuh dari sifat kenabian. Jujur adalah sikap yang tulus dalam melaksanakan sesuatu yang diamanatkan, baik berupa harta maupun tanggung jawab. Orang yang melaksanakan amanat disebut al-Amin, yakni orang yang terpercaya, jujur, dan setia. Dinamakan demikian karena segala sesuatu yang diamanatkan kepadanya menjadi aman dan terjamin dari segala bentuk gangguan, baik yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Sifat jujur dan terpercaya merupakan sesuatu yang sangat penting dalam segala aspek kehidupan, seperti dalam kehidupan rumah tangga, perniagaan, perusahaan, dan hidup bermasyarakat. Di antara faktor yang menyebabkan Nabi Muhammad saw. berhasil dalam membangun masyarakat Islam adalah karena sifat-sifat dan akhlaknya yang sangat terpuji. Salah satu sifatnya yang menonjol adalah kejujurannya sejak masa kecil sampai akhir hayatnya, sehingga ia mendapat gelar al-Amin (orang yang dapat dipercaya atau jujur). Kejujuran akan mengantarkan seseorang mendapatkan cinta kasih dan keridaan Allah Swt. Kebohongan adalah kejahatan tiada tara, yang merupakan faktor terkuat yang mendorong seseorang berbuat kemunkaran dan menjerumuskannya ke jurang neraka. Kejujuran sebagai sumber keberhasilan, kebahagian, serta ketenteraman, harus dimiliki oleh setiap muslim. Bahkan, seorang muslim wajib pula menanamkan nilai kejujuran tersebut kepada anak-anaknya sejak dini hingga pada akhirnya mereka menjadi generasi yang meraih sukses dalam mengarungi kehidupan. Adapun kebohongan adalah muara dari segala keburukan dan sumber dari segala kecaman akibat yang ditimbulkannya adalah kejelekan, dan hasil akhirnya adalah kekejian. Akibat yang ditimbulkan oleh kebohongan adalan namimah (mengadu domba), sedangkan namimah dapat melahirkan kebencian. Demikian pula kebencian adalah awal dari permusuhan. Dalam permusuhan tidak ada keamanan dan kedamaian. Dapat dikatakan bahwa, “orang yang sedikit kejujurannya niscaya akan sedikit temannya.”

Contoh Bukti Kejujuran Nabi Muhammad saw. 
Ketika Nabi Muhammad saw. hendak memulai dakwah secara terbuka dan terang-terangan, langkah pertama yang dilakukan, Rasulullah saw. berdiri di atas bukit, kemudian memanggil-manggil kaum Quraisy untuk berkumpul, “Wahai kaum Quraisy, kemarilah kalian semua. Aku akan memberikan sebuah berita kepada kalian semua!” Mendengar panggilan lantang dari Rasulullah saw., berduyun-duyunlah kaum Quraisy berdatangan, berkumpul untuk mendengarkan berita dari manusia jujur penuh pujian. Setelah masyarakat berkumpul dalam jumlah besar, beliau tersenyum kemudian bersabda, “Saudara-saudaraku, jika aku memberi kabar kepadamu, jika di balik bukit ini ada musuh yang sudah siaga hendak menyerang kalian, apakah kalian semua percaya?” Tanpa ragu semuanya menjawab mantap, “Percaya!” Kemudian, Rasulullah kembali bertanya, “Mengapa kalian langsung percaya tanpa membuktikannya terlebih dahulu?” Tanpa ragu-ragu orang yang hadir di sana kembali menjawab mantap, “Engkau sekalipun tidak pernah berbohong, wahai al-Amin. Engkau adalah manusia yang paling jujur yang kami kenal.”

B. Ayat-Ayat Al-Qur’ān dan Hadis tentang Perintah Berlaku Jujur 

1. Q.S. al-Māidah/5:8 
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

2. Q.S. at-Taubah/9:119 
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah Swt., dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.”

Kandungan Q.S. al-Māidah/5:8 
Ayat ini memerintahkan kepada orang mukmin agar melaksanakan amal dan pekerjaan mereka dengan cermat, jujur, dan ikhlas karena Allah Swt., baik pekerjaan yang bertalian dengan urusan agama maupun pekerjaan yang bertalian dengan urusan kehidupan duniawi. Karena hanya dengan demikianlah mereka dapat sukses dan memperoleh hasil balasan yang mereka harapkan. Dalam persaksian, mereka harus adil menerangkan apa yang sebenarnya, tanpa memandang siapa orangnya, sekalipun akan menguntungkan lawan dan merugikan sahabat dan kerabatnya sendiri. Ayat ini seirama dengan Q.S. an-Nisā/4:153, yaitu sama-sama menerangkan tentang seorang yang berlaku adil dan jujur dalam persaksian. Perbedaannya ialah dalam ayat tersebut diterangkan kewajiban berlaku adil dan jujur dalam persaksian walaupun kesaksian itu akan merugikan diri sendiri, ibu, bapak, dan kerabat. Selanjutnya, dalam ayat ini diterangkan bahwa kebencian terhadap sesuatu kaum tidak boleh mendorong seseorang untuk memberikan persaksian yang tidak adil dan tidak jujur, walaupun terhadap lawan. Menurut Ibnu Kașir, maksud ayat di atas adalah agar orang-orang yang beriman menjadi penegak kebenaran karena Allah Swt., bukan karena manusia atau karena mencari popularitas. Mereka dapat menjadi saksi dengan adil dan tidak curang, jangan pula kebencian kepada suatu kaum menjadikan kalian berbuat tidak adil terhadap mereka, Terapkanlah keadilan itu kepada setiap orang, baik teman ataupun musuh karena sesungguhnya perbuatan adil menghantarkan pelakunya memperoleh derajat takwa. Terkait dengan menjadi saksi dengan adil, ditegaskan dari Nu’man bin Basyir, “Ayahku pernah memberiku suatu hadiah. Kemudian ibuku, ‘Amrah binti Rawahah, berkata, ‘Aku tidak rela sehingga engkau mempersaksikan hadiah itu kepada Rasulullah saw. Kemudian, ayahku mendatangi beliau dan meminta beliau menjadi saksi atas hadiah itu. Kemudian Rasulullah saw. pun bersabda: Artinya: “Apakah setiap anakmu engkau beri hadiah seperti itu juga? ‘Tidak’, jawabnya. Maka beliau pun bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah Swt., dan berbuat adillah terhadap anak-anak kalian!’ lebih lanjut beliau bersabda, ‘Sesungguhnya, aku tidak mau bersaksi atas suatu ketidakadilan.’ Kemudian ayahku pulang dan menarik kembali pemberian tersebut.”

Kandungan Q.S. at-Taubah/9:119 Dalam ayat ini, Allah Swt. menunjukkan seruan-Nya dan memberikan bimbingan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya dan Rasul-Nya. Mereka diharapkan tetap dalam ketakwaan serta mengharapkan rida-Nya, dengan cara menunaikan segala kewajiban yang telah ditetapkan-Nya, dan menjauhi segala larangan yang telah ditentukan-Nya, dan hendaklah senantiasa bersama orang-orang yang benar dan jujur, mengikuti ketakwaan, kebenaran dan kejujuran mereka. Dan jangan bergabung kepada kaum munafik, yang selalu menutupi kemunafikan mereka dengan kata-kata dan perbuatan bohong serta ditambah pula dengan sumpah palsu dan alasan-alasan yang tidak benar.

3. Hadis dari Abdullah bin Mas’ud ra. 
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra., Rasulullah saw. bersabda, “Hendaklah kamu berlaku jujur karena kejujuran menuntunmu pada kebenaran, dan kebenaran menuntunmu ke surga. Dan sesantiasa seseorang berlaku jujur dan selalu jujur sehingga dia tercatat di sisi Allah Swt. sebagai orang yang jujur. Dan hindarilah olehmu berlaku dusta karena kedustaan menuntunmu pada kejahatan, dan kejahatan menuntunmu ke neraka. Dan seseorang senantiasa berlaku dusta dan selalu dusta sehingga dia tercatat di sisi Allah Swt. sebagai pendusta.” (H.R. Muslim)

Kandungan Hadis Dalam sebuah hadis panjang yang berasal dari Syihab diceritakan bahwa ketika Rasulullah saw. akan melakukan gazwah (penyerangan) ke Tabuk untuk menyerang tentara Romawi dan orang-orang Kristen di Syam, salah seorang sahabat yang bernama Ka’ab bin Malik mangkir dari pasukan perang. Ka’ab menceritakan bahwa mangkirnya ia dari peperangan tersebut bukan karena sakit ataupun ada suatu masalah tertentu. Menurutnya, hari itu justru ia sedang dalam kondisi prima dan lebih prima dari hari-hari sebelumnya. Tetapi entah mengapa ia merasa enggan untuk bergabung bersama pasukan Rasulullah saw. sampai akhirnya ia ditinggalkan oleh pasukan Rasulullah saw. Sekembalinya pasukan Rasulullah saw. ke Madinah, ia pun bergegas menemui Rasulullah saw. dan berkata jujur tentang apa yang ia lakukan. Akibatnya, Rasul menjadi murka, begitu pula sahabat-sahabat lainnya. Ia pun dikucilkan bahkan diperlakukan seperti bukan orang Islam, sampai-sampai Rasulullah saw. memerintahkannya untuk berpisah dengan istrinya. Setelah lima puluh hari berselang, turunlah wahyu kepada Rasulullah saw. yang menjelaskan bahwa Allah Swt. telah menerima taubat Ka’ab dan dua orang lainnya. Allah Swt. benarbenar telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan Anśar yang mengikutinya dalam saat-saat sulit setelah hingga saja hati sebagian mereka bermasalah. Kemudian, Allah Swt. menerima taubat mereka dan taubat tiga orang yang mangkir dari jihad sampai-sampai mereka merasa sumpek dan menderita. Sesungguhnya Allah Swt. Maha Pengasih dan Penyayang. Ketika ia diberi kabar gembira bahwa Allah Swt. telah menerima taubatnya, dan Rasulullah saw. telah memaafkannya, Ka’ab berkata, “Demi Allah Swt. tidak ada nikmat terbesar dari Allah Swt. setelah nikmat hidayah Islam selain kejujuranku kepada Rasulullah saw. dan ketidakbohonganku kepada beliau, sehingga saya tidak binasa seperti orang-orang yang berdusta, sesungguhnya Allah Swt. berkata tentang mereka yang berdusta dengan seburuk-buruk perkataan.